Ada sebuah kota yang tidak pernah benar-benar berhenti ketika malam datang. Ia tidak mati, ia hanya berganti wajah.
Sebelum dunia mengenal toko-toko modern yang terjaga 24 jam, Solo sudah punya caranya sendiri untuk merawat kehidupan sepanjang waktu. Melalui kebiasaan cagak lek (penahan kantuk), masyarakat Solo menciptakan sebuah ruang sederhana yang menjaga manusia tetap hangat yaitu Wedangan.
Di ruang tanpa sekat ini, uap teh yang pekat menyatu dengan obrolan-obrolan yang tidak selalu selesai. Di sini, tidak ada yang dikejar, tidak ada yang menahan. Menjadi tempat bagi siapa saja tanpa memandang kasta atau jangkauan untuk sejenak menemukan jedanya di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat.
Mari duduk sebentar, nikmati hangatnya wedang, dan mari menyusuri sudut-sudut Solo yang menolak untuk tergesa.

