Makalah Komunikasi Aria Bima: Komunikasi Risiko Covid-19

Tugas membuat rancangan pesan tentang bahaya Covid-19 dengan Strategi Ansva: Attention (perhatian), Need (kebutuhan), Satisfaction (pemuasan), Visualization (visualization), dan Action (tindakan)

Kondisi mutakhir sekitar perkembangan CoViD -19 di Indonesia (data Kemenkes RI dan SATGAS COVID-19, 29 September 2019)

  1. Jumlah kasus konfirmasi COVID-19 global sebanyak 33.034.598 kasus dengan 996.342 kematian (CFR 3,0%) di 215 Negara Terjangkit.
  2. Jumlah kasus konfirmasi COVID-19 di Indonesia sebanyak 282.724 kasus, bertambah sebanyak 4.002 kasus dari hari sebelumnya. Penambahan kasus hari ini lebih banyak dibanding hari sebelumnya (3.509 kasus).
  3. Jumlah kasus selesai isolasi COVID-19 di Indonesia sebanyak 210.437 kasus (Recovery Rate 74,43%). Angka selesai isolasi/kesembuhan COVID-19 ini mengalami peningkatan dibanding hari sebelumnya (74,22%), dan satu minggu sebelumnya (72,87%).
  4. Jumlah kasus meninggal dengan konfirmasi COVID-19 di Indonesia sebanyak 10.601 kasus (CFR 3,75%), bertambah sebanyak 128 kasus dari hari sebelumnya. Kasus meninggal hari ini lebih banyak dibandingkan hari sebelumnya (87 kasus). Angka kematian ini mengalami penurunan dibandingkan angka kematian satu minggu sebelumnya (3,89%). Dibandingkan dengan kasus global, angka kematian di Indonesia masih lebih tinggi 0,75%.
  5. Jumlah kasus suspek hingga hari ini sebanyak 132.496 orang, jumlah ini bertambah dibandingkan jumlah suspek pada hari sebelumnya (131.361 orang).
  6. Jumlah spesimen yang diperiksa pada hari ini adalah 37.158 spesimen dari 27.891 orang. Pada tanggal 29 September 2020 hingga pukul 12.00 WIB terdapat 65 lab yang belum melapor hasil pemeriksaan PCR (di Kota Palembang, Pontianak, Yogyakarta, Jambi, Manado, Bandung, Jakarta, Bekasi, Purwokerto, Teluk Bintuni, Cirebon, Mamuju, Kudus, Jember, Sorong, Tanah Grogot, Lampung, Tarakan, Surabaya, Samarinda, Balikpapan, Pekanbaru, Ternate, Selong, Palembang, Lubuk Linggau, Medan, Tanah Laut, Tuban, Tabalong, Malang, Manokwari, Bontang, Hulu Sungai Utara).
  7. Jumlah Provinsi tidak ada penambahan kasus hari ini ada satu: Papua.
  8. Tiga Provinsi dengan jumlah penambahan kasus tertinggi hari ini adalah; DKI Jakarta (1238), Jawa Barat (316), dan Jawa Timur (276).
  9. Terdapat 1204 klaster total penyebaran COVID-19 di Indonesia dengan klaster terbaru di antaranya:
  10. Kelompok Warga Kelurahan Ngadirejo Sukoharjo -Kelompok Warga Desa Pabelan Sukoharjo -Kelompok Warga Gunung Sari Ulu (GSU) Balikpapan
  11. Permata Bank Bintaro Tangerang Selatan
  12. Kantor Perbankan di Pontianak

Data tersebut menunjukkan bahwa pandemi CoVid-19 di Indonesia belum menunjukkan adanya tanda-tanda untuk mereda. Jumlah kumulatif terkonfirmasi CoVid-19 dan suspek secara angka maupun grafis menunjukkan adanya peningkatan secara berkesinambungkan. Kondisi itu tentu menyedihkan karena telah mengakibatkan kegiatan ekonomi menunjukkan trend pertumbuhan yang menurun dan tanda-tanda yang menunjukkan datangnya resesi ekonomi mulai bermunculan. Dunia pendidikan juga telah lebih dari satu semester lumpuh – sekolah dan kampus perguruan tinggi belum dibuka, kegiatan belajar-mengajar secara tatap muka belum dimulai. Trend PHK juga terus meningkat.

Sementara itu tingkat kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan masih perlu ditingkatkan. Kepatuhan terhadap terhadap protokol kesehatan dalam gaya hidup sehari-hari menjadi salah satu kunci keberhasilan untuk menghambat dan mengurangi perluasan pandemi CoViD-19 dari sisi jumlah manusia terdampak, maupun cakupan luas wilayah.

Komunikasi Risiko Covid-19

Komunikasi risiko menurut definisi WHO adalah, “pertukaran informasi tentang advis dan opini di antara para pakar dan masyarakat dalam menghadapi ancaman  terhadap kesehatan, ekonomi,dan (atau) kesejahteraan sosial secara real-time”.  Terdapat dua model kominikasi risiko , pertama, pendekatan realis.  Pendekatan realis akan mengkomunikasikan segala risiko yang timbul secara objektif dan independen sesuai dengan konteks sosial secara apa adanya. Kedua, pendekatan konstruksionis secara sosial dengan cara pandang yang mengaitkannya dengan konteks sosio-kultural. Pendekatan tersebut sangat memerhatikan pandangan-pandangan  dari masyarakat, komunitas, dan pasien dalam kaitannya dengan masalah yang mereka hadapi. (WHO, 2020).

Sejalan dengan kemajuan teknologi, WHO juga mengembangkan pembangunan dan pelayanan kesehatan berbasis elektronik atau e-health yang dimediasi internet. E-health mencakup semua jenis layanan kesehatan  baik promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Bagi penderita yang sudah memiliki harapan untuk sembuh, e-health juga mencakup pelayanan yang bersifat paliatif. Menurut WHO, komunikasi kesehatan merupakan salah satu tulang punggungnya. Seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informatika, komunikasi kesehatan merupakan bagian penting dari e-health, terutama untuk layanan promotif dan preventif.  WHO telah mengembangkan e-health di negara berkembang yang populer disebut 5c’s, terdiri atas context, content, connectivity, capacity, dan community development. Dari 5c’s tersebut, tiga hal merupakan bagian penting dalam unsur komunikasi yakni konteks (context), muatan atau konten (content),  dan konektivitas (connectivity). Hal itu menunjukkan bahwa tulang pungguh e-health adalah strategi komunikasi – termasuk komunikasi risiko bagi pencegahan dan pembatasan penularan CoViD-19 baik dari sisi jumlah dan cakupan luas wilayah. (Kreps dalam Litllejohn dan Foss.2016 :560-566).

Penyakit Novel Coronavirus 2019 (CoViD-19) adalah penyakit yang disebabkan pathogen severe acute respiratory syndrome (SARS) coronavirus 2 (SARS-COV2) , yang mulai menjangkit dari kawasan Wuhan China akhir 2019. Epidemi yang berawal dari Wuhan itu menyebar dengan cepat menjadi pandemi yang mendunia. Penyebaran virus terutama melalui droplets. Seperti batuk dan bersin. Penularan bisa melalui droplets secara langsung dan persentuhan dengan kulit, maupun media lain seperti kayu, logam, plastik, dan sebagainya yang terpapar virus CoViD-19. Penelitian pakar terbaru berpendapat jalur penularan virus CoViD-19 bisa melalui udara (airborne) antara lain melalui aktvitas bicara atau bernafas.  Oleh karena itu, ventilasi yang baik merupakan kunci utama pencegahan penularan.

Selain paparan virus melalui droplets secara langsung , penularan CoViD-19 juga bisa terjadi melalui sentuhan antar kulit yang terpapar virus CoViD-19, atau melalui persentuhan antara kulit dengan permukaan (surface) berbagai media (logam, plastik, kayu, dll) yang terpapar virus CoViD-19. Infeksi virus CoViD-19 bisa mengakibatkan kematian – terutama bagi mereka yang daya imunitasnya rendah, maupun mereka yang memiliki komorbid yang merupakan Riwayat penyakit penyerta bawaan, seperti diabetes, hipertensi, TB, dan sebagainya.

Strategi Penyusunan Pesan Tentang CoViD-19

Tujuan : Pencegahan dan pembatasan perluasan pandemic CoViD-19

Sifat : Public Service Announcement (PSA) atau Iklan Layanan Masyarakat (ILM)

Khalayak : Umum lintas usia, gender, dan status sosial ekonomi

Media pembawa pesan : Media siaran (radio dan televisi), media baru (SMS blasting, penetrasi media Sosial (Facebook, Twitter, YouTube, Instagram, WAG)

Format : Ad-lips (stopper pada radio), narasi tertulis pada media sosial Facebook, Twitter, dan WAG), vlog pada Instagram dan YouTube

Durasi pesan : kurang lebih lima menit

Format pesan : dialog antara dua orang

Frekuensi penyampaian : repetitif

Metode : ANSVA (Attention, Need, Satisfaction, Visualisation, Action) , Alan H. Monroe dalam Raymond Samuel Ross. 1974. Persuasion Communication and Interpersonal Relations. New York : Prentice-Hall.

Konten pesan :

Pelaku 1 : Hai bro, kenapa tidak pakai masker?

Pelaku 2 : Iya, tadi buru-buru.

Pelaku 1 : Tahu bahaya CoViD-19?

Palaku 2 : Pasti Bro!

Pelaku 1: Selain itu, kalau kena operasi yustisi kan berabe.

Pelaku 2 : Iya Nih  (Attention)

Pelaku 1 : Bawa masker Bro?

Pelaku 2 : Tidak bro.

Pelaku 1 : Pakai Nih, saya ada lebih.

Pelaku 2 : Thanks Bro!

Pelaku 1 : Mau kemana sih?

Pelaku 2 : Mall!

Pelaku 1 : Sama dong, ayo kita bareng.

Pelaku 2 : Ok, sip!

Pelaku 1 : Ingat protocol kesehatan. Pakai masker, jaga jarak, jangan berkerumun,  dan sering cuci  tangan.

Pelaku 2 : Kita sudah sampai. Maaf punya hand sanitizer?

Pelaku 1 : Punya, tapi lebih baik kita cuci tangan di kran air itu, airnya ngalir. Jangan lupa bersihkan tangan dengan sabun sekitar 20 detik dan bilas yang bersih.

Pelaku 2 : Ok Siap. Kita harus antri sesuai garis itu?

Pelaku 1 : Harus! (Needs)

Pelaku 1 : Kita tidak nongkrong di kafe ya!

Pelaku 2 : Memangnya kenapa?

Pelaku 1 : Supaya aman dan terhindar dari risiko tertular CoViD-19.

Pelaku 2 : Jadi makanan kita bungkus?

Pelaku 1 : Yoi, makan dirumah (Satisfaction)

Pelaku 1 : Hei, maskermu jangan melorot!

Pelaku 2 : Memangnya kenapa ?

Pelaku 1 : Percuma kalau gak nutupi lubang hidung. Virus CoViD -19 itu nyerang saluran pernpasan. Jadi mulut dan hidung harus tertutup masker kalau di tempat umum.

Pelaku 2 : Siap boss! Tapi ngap nih.

Pelaku 1 : Kalau gak mau ngap ya gak usah keluar, apalagi ke mall. Risiko tinggi.

Pelaku 2 : Perlu cari buku kuliah, adanya di toko buku di mall ini. Kamu ngapain ke mall juga.

Pelaku 1 : Nebus obat ibuku, adanya di apotek dalam mall. Ingat ya, maskermu jangan diplorotin.

Pelaku 2 : Siap boss! (Visualisation)

Pelaku 2 : Pulang pakai apa bro? Saya naik busway.

Pelaku 1 : Sama. Kita barengan sampai halte ya!

Pelaku 2: Kita sudah sampai. Harus cuci tangan dulu kah?

Pelaku 1 : Harus, dan masker harus dipakai yang bener!

Pelaku 2 : Kita duduk sebelahan yuk!

Pelaku 1 : Gak mau! Patuhi protokol kesehatan. Lagian itu ada tanda silang merah.

Peaku 2 : Ngapain hidup kok jadi serba ribet?

Pelaku 1 : Kalau sayang sama dirimu patuhi protokol kesehatan.

Pelaku 2 : Sampai kapan?

Pelaku 1 : Sampai pandemi reda! (Action)

Dibuat oleh Aria Bima, sebagai tugas dari dosen pengajar Dr. Dadang Sugiana pada Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, 2020

Referensi :

Abrams, Elissa, M. dan Greenhawt, Matthew. Risk Communication During COVID-19, J Allergy Clin Immunol Pract. 2020 Jun; 8(6): 1791–1794. Published online 2020 Apr 15. doi: 10.1016/j.jaip.2020.04.012

Kreps, Gary L. Health Communication Theories, dalam Littlejohn, Stephen W. dan Foss, karen A. 2016. Ensiklopedia Teori Komunikasi Jilid.1. Jakarta : Kencana.

Littlejohn, Stephen W. dan Foss, karen A. 2016. Ensiklopedia Teori Komunikasi Jilid.1. Jakarta : Kencana.

Ross, Raymond, Samuel. 1974. Persuasion Communication and Interpersonal Relations. New York : Prentice-Hall.

World Health Organization General information on risk communication. https://www.who.int/risk-communication/background/en/ Available from: Accessed March 29, 2020.

Venus, Antar. 2018. Manajemen Kampanye Panduan Teoritis dan Praktis Dalam Mengaktifkan Kampanye Komunikasi Publik. Bandung : Simbiosa Rekatama Media. Edisi revisi cetakan pertama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *